Dukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah, Arief: Kemenkumham Jangan Lebay

Dukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah, Arief: Kemenkumham Jangan Lebay
Dukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah, Arief: Kemenkumham Jangan Lebay

SUARA ARAH PUBLIK, JAKARTADukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah, Politisi Gerindra Arief Poyuono menyoroti video pertemuan Deddy Corbuzier dengan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di akun YouTube selebgram tersebut. Kemenkumham Usut Dedy Corbuzier dalam kasus Deddy Corbuzier wawancarai Siti Fadillah tanpa izin.

Video di channel YouTube Deddy Corbuzier itu telah disaksikan jutaan pemirsa tanah air.

Menurut Arief, tidak ada yang salah dengan pertemuan silahturahmi tersebut. Dia justru menegaskan seharusnya pemerintah segera mengambil pelajaran dari pengalaman Siti Fadilah dalam menghadapi flu burung.

“Isinya sesuai dengan garis pemerintahan Presiden Jokowi dan pelajaran tentang bagaimana menghadapi wabah flu burung yang bisa digunakan saat ini. Seharusnya pemerintah memetik pelajaran dari pengalaman Siti Fadilah untuk mengatasi corona saat ini,” kata Arief pada Senin (15/5).

Baca Juga : Kemenkumham Usut Dedy Corbuzier Wawancarai Mantan Menkes Siti Fadillah Tanpa Izin

Dukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah, Arief juga menilai pernyataaan Ditjen PAS Kemenkumham yang mengatakan wawacancara tersebut tidak ada izin, terlalu mengada-ada dan justru mencoreng pemerintahan Presiden Jokowi yang sedang sibuk menghadapi corona.

“Jangan lebay-lah. Bikin malu aja. Sebelumnya juga sudah berkali-kali wawancara dilakukan wartawan saat Siti Fadilah di dalam penjara. Semua media massa memuat pernyataan Bu Siti yang isinya bagaimana mengatasi corona,” ungkap Arief.

Dia juga tidak setuju pernyataan yang menyalahkan Deddy Corbuzier karena mengunggah pertemuan silahturahminya di akun YouTube-nya kemudian dikutip oleh berbagai media nasional. Dedy Dukung Deddy Corbuzier dan Siti Fadilah,

“Sudah jelas itu hak privasi Deddy meng-upload dokumentasi tersebut, yang justru menjadi hak publik untuk tahu. Ingat ini bukan zaman orde baru lagi, yang semua hak publik bisa didapat kalau ada izin,” ujarnya.

Baca Juga : Menkumham Digugat !! Karena Bebaskan Narapidana, Rakyat Jadi Resah

Sebaiknya, kata Arief, Kemenkumham melakukan evaluasi dan mengurus semua tahanan yang positif corona dan berbahaya bagi tahanan yang lain. Karena kalau dibiarkan, ujar dia, maka Kemenkumham dalam hal ini bersalah karena melakukan pembiaran yang membahayakan nyawa orang lain.

“Melepaskan penjahat kriminal beberapa waktu lalu sudah salah karena justru membahayakan masyarakat. Sekarang dengan memasukan orang berisiko seperti Siti Fadilah kembali ke penjara Pondok Bambu yang sudah daerah merah corona tambah salah lagi,” tuntasnya.

Seperti diketahui, Siti kembali dijebloskan ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sebelumnya Siti, Rabu 20 Mei 2020, berobat ke RSPAD Gatot Soebroto dengan tujuan mengobati terkait penyakit asma yang di deritanya.

Siti baru-baru ini secara eksklusif diwawancarai Deddy Corbuzier, saat tengah menjalani masa hukuman akibat kasus korupsi.

Baca Juga : Kemenkumham Telah Bebaskan 35.676 Napi demi Cegah Penyebaran Corona

Dalam wawancara itu, diketahui, Siti bicara blakblakan tentang konspirasi dan virus corona di YouTube Deddy Corbuzier.

Perbincangan keduanya ini bahkan menjadi viral di media sosial. Apalagi Siti Fadilah mengungkap soal kasusnya, flu burung, virus corona hingga Bill Gates.

Namun, ternyata kegiatan wawancara yang ditayangkan di channel YouTube Deddy Corbuzier tersebut tak seizin Ditjen PAS Kementerian Hukum dan HAM.

“Itu nggak ada izin,” kata Kabag Humas Ditjen PAS, Rika sebagaimana dikutip sejumlah media.

Baca Juga : Habib Bahar bin Smith Buka Suara Soal Isu Dipukuli dan Cukur Rambut

Kunjungi Page Facebook  : Suara Arah Publik

About admin

Check Also

Penusuk Wiranto Dituntut Hukuman 16 Tahun Penjara

SUARA ARAH PUBLIK, JAKARTA – Terdakwa pelaku penusukan terhadap mantan Menkopolhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *