Pelapor Kasus ‘Nasi Anjing’ Diperiksa Polisi, Pelapor Minta Kasus Dilanjutkan

Pelapor Kasus 'Nasi Anjing' Diperiksa Polisi, Pelapor Minta Kasus Dilanjutkan
Pelapor Kasus ‘Nasi Anjing’ Diperiksa Polisi, Pelapor Minta Kasus Dilanjutkan

SUARA ARAH PUBLIK, JAKARTA –  Polres Metro Jakarta Utara memeriksa Rina Triningsih, pelapor dalam kasus ‘nasi anjing’. Rina menyebut, pihak yayasan yang membagikan nasi bungkus berlogo kepala anjing itu menista agama karena memberikannya kepada umat muslim untuk berbuka puasa.

“Dikarenakan ada unsur pelecehan yang sistematis ya, kenapa yang dipilih lambang anjing sedangkan pihak ARK Qahal mengetahui anjing adalah hewan yang diharamkan bagi umat Islam,” kata Rina kepada wartawan, di Polres Metro Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020).

Saat ini pelapor yang melaporkan dugaan penistaan agama terkait pembagian ‘nasi anjing’ itu diperiksa polisi.

“Iya (dilimpahkan) ke Polres (Jakarta Utara), ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam keterangannya, Kamis (11/6/2020).

Baca juga : Politisi PDIP Minta Kasus Nasi Anjing Tidak Perlu Diperbesar

Wirdhanto juga menyampaikan bahwa saat ini penyidik sedang melakukan pemeriksaan terhadap pelapor.

“Pelapor Sedang (diperiksa) di Unit Kamneg,” kata Wirdhanto.

Sebelumnya, pelapor bernama Rina Triningsih melaporkan pembagian nasi bungkus berlogo kepala anjing ini ke Polda Metro Jaya. Rina melaporkan pihak Yayasan Qahal–pembuat nasi anjing–dengan tuduhan penistaan agama.

Pelapor juga menyayangkan pembagian ‘nasi anjing’ bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dia menilai hal itu telah menyakiti umat Islam.

“Fatalnya lagi diberikan kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan menjelang berbuka, bukan hanya satu-dua bungkus saja mungkin lebih dari puluhan,” ujar Rina.

Baca Juga : BAKOR KAN- Istilah Kadrun itu Rasis yang dibuat Oleh PKI untuk Olok-olok Islam

Menurut Rina, tindakan pihak Pembagi ‘nasi Anjing’ sudah menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Dari situ sudah ada unsur kesengajaan dan mereka akan paham kenapa dengan adanya pembagian nasi anjing itu mereka paham akan terjadi hal yang membuat resah masyarakat. Silakan saling membantu tapi tidak perlu harus menyakiti umat terutama Islam,” imbuhnya.

Meski pihak yayasan telah menyampaikan bahwa makanan itu halal dan tidak mengandung unsur olahan dari anjing, namun Rina tetap menyoal logo anjing pada bungkus nasi. Padahal, anjing merupakan hewan yang punya konotasi kurang baik.

“Istilah anjing di Indonesia sering digunakan untuk umpatan atau hinaan kepada pihak yang tidak disenangi atau direndahkan,” kata Rina.

Baca Juga : Eks Wakil Kepala BIN: RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) Dinodai Dendam Mantan PKI

 

Pihak yayasan juga sebelumnya telah meminta maaf kepada warga Warakas yang menerima ‘nasi anjing’ itu. Namun Rina–yang bukan warga Warakas–tetap melaporkan pihak yayasan karena dianggap telah menodai umat islam.

“Kita tidak bisa menilai dari selesai hanya di batas materai. Memaafkan pasti kita saling memaafkan. Di sisi lain kita sebagai umat merasa resah. Jangan sampai hal itu terjadi dan terulang lagi karena kita umat Islam masih punya harga diri,” kata Rina

Sementara itu, Sony Ramawijaya selaku advokat dari IKAMI menyebutkan bahwa tulisan ‘nasi anjing’ itu telah menyinggung perasaan umat Islam.

“Di sini ada pasal 156 A atau 157 KUHP di situ dijelaskan tentang ujaran kebencian terhadap kita terutama umat Islam. Masalahnya ada tulisan di dalam bungkusnya itu, tulisan sangat menyinggung perasaan umat Islam sebenarnya itu,” kata Sony.

“Di situlah kami di sini melaporkan ini untuk bisa diselidiki oleh aparat kepolisian. Sebenarnya apa maksud mereka berbuat begini supaya jangan terulang lagi,” sambung Sony.

Baca Juga : PDIP Tolak TAP MPRS Tentang Larangan Ajaran Komunisme di Indonesia Masuk RUU HIP

Kunjungi Page Facebook  : Suara Arah Publik

About admin

Check Also

Penusuk Wiranto Dituntut Hukuman 16 Tahun Penjara

SUARA ARAH PUBLIK, JAKARTA – Terdakwa pelaku penusukan terhadap mantan Menkopolhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *